Search
Archives

Awal memilih masuk fakultas peternakan karena ingin bersaing dengan teman satu kelas di SMA yang sudah lebih dahulu diterima Ujian Mandiri di Universitas Gajah Mada (UGM). Oleh karena itu saya mengikuti program masuk universitas Seleksi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau yang lebih dikenal dengan sebutan SNMPTN. Seminggu sebelum pengumpulan formulir SNMPTN berlangsung, secara tidak langsung saya telah diterima untuk mengikuti beasiswa ujian masuk universitas yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran. Alasan memilih Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) karena saat mengisi formulir SNMPTN hanya terdapat dua pilihan di FAPET IPB,yaitu IPTP dan INTP (Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan). Saya memilih produksi karena lebih tertarik dibidang produksi serta pengolahan hasil ternaknya, sehingga lebih memilih IPTP.

Nitrat dalam tanah bersumber dari senyawa nitrogen dari pupuk, baik pupuk organik maupun anorganik(pupuk kimia) yang umumnya dalam bentuk amonium (NH 4+), kemudian dengan cepat diubah menjadi nitrat dalam tanah. oleh karena itu, pemberian pupuk yang berlebihan akan meningkatkan kandungan nitrat dalam tanah dan tanaman. nitrat dalam tanah oleh tanaman digunakan untuk pertumbuhan. lebih dari 90%N diserap tanaman dalam bentuk nitrat.

Pembuangan kotoran kandang secara terus-menerus tanpa melalui saluran khusus kedalam tanah akan meningkatkan kandungan amonia  dalam tanah. selanjutnya diserap oleh tanaman, dan bila dimakan oleh ternak akan dapat menyebabkan keracunan. Nitrat dalam air berasal dari pembuangan kotoran kandang kedalam tanah secara terus menerus tanpa melalui saluran khusus, akan meningkatkan kandungan nitrat dalam tanah, sehingga dapat mencemari sumber air disekitarnya.

Sumber air yang sering tercemar nitrat adalah sumber air yang tidak terpelihara (tidak pernah digunakan) dengan kedalaman yang cukup dangkal, air danau, serta sumber air yang berdekatan dengan lahan pertanian yang dipupuk N dengan takaran tinggi. ambang batas nitra dalm air minum yang aman dikonsumsi ternak adalah 45 mg/1, dan untuk nitrit 1 mg/1. Menurut menteri kependudukan dan lingkungan hidup no. KLH/02/1988, ambang batas nitrit yang diperbolehkan adalah 0,06 mg/1, yaitu kriteria untuk air minum golongan c (air untuk perikanan dan peternakan).

Keracunan nitrat pada ternak ruminansia disebabkan oleh reaksi reduksi nitrat menjadi nitrit dengan bantuan bakteri rumen. gejalak klinis keracunan nitrat disebabkan karena kekurangan oksigen dalam darah (hypoxia), sehingga warna darah menjadi kecoklatan (gelap) yang merupakan ciri spesifik keracunan nitrat.

Gejala keracunan nitrat akut akan terlihat dalam waktu 30 menit sampai 4 jam setelah ternak mengkonsumsi hijauan yang mengandung nitrat yang tinggi. gejala tersebut pada ternak bunting akan menyebabkan keguguran karena fetus kekurangan oksigen .biasanya terjadi 10-14 hari setelah gejala keracunan muncul. gejala awal keracunan nitrat di antaranya adalah selaput lendir berwarna kebiruan sampai kecoklatan, susah bernafas, denyut nadi cepat (150+/menit, salivasi, kembung, kejang dan tidak bisa berdiri, lemah, koma dan akhirnya mati.

Perbandingan efek klinis antaranitrat dan senyawa toksik lainnya pada ternak, termasuk pengobatannya. Berdasarkan perubahan warna darah, keracunan nitrat mirip dengan keracunan sodium klorat dan CO2, sedangkan keracunan sianida mirip dengan keracunan CO.

Kasus keracunan nitrat pada ruminansia dan hewan lainnya umumnya disebabkan ternak mengkonsumsi hijauan yang mengandung nitrat tianggi,karena peternak belum mengetahuisaat yang tepat untuk memotong hijauan setelah dipupuk nitrogen. beberapa kasus keracunan nitrat dibeberapa daerah di indonesia.

Penyebab keracunan nitrat pada sapi perah dan domba dibeberapa peternakan adalah tingginya kandungan nitrat dalam hijauan pakan. pada sapi perah di bogor, kandungan niotrat dalam hijauan pakan mencapai 6.250 mg/kg atau melebihi ambang batasnya. pada sapi perah di bandung, kasus kematian 6 ekor ternak dan 7 ekor lainnya dipotong paksa dari total 44 ekor, disebabkan ternak mengkonsumsi hijauan yang mengandung nitrat 8.000 mg/kg. kasus ini terjadi pada musim kemarau yang menyebabkan tingginya akumulasi nitrat dalam hijauan setelah pemupukan N.

Pada tahun 2007, terjadi pula kematian sapi perah di bogor akibat keracunan nitrat. darah ternak menjadi agak gelap yang merupakan gejala spesifik keracunan nitrat. dari hasil pemriksaan, ternyata hijauan pakan yang berupa rumput gajah dengan batang tua (kulit tipis)mengandung nitrat 160 mg/kg dan rumput gajah dengan batang muda dan kulit batang tebal mengandung nitrat 4.000 mg/kg nitrat, atau sudah melewati ambang batas nitrat yang aman untuk ternak. tingginya nitrat pada batang muda rumput gajah disebabkan rumput dipanen setelah dipupuk N. pada rumput gajah dengan batang tua, rumput dipotong beberapa lama setelah dipupuk N. sehingga level nitrat turun ketingkat normal.

Dari berbagai kasus keracunan pada ternak, hijauan pakaqn yang dikonsumsi ternak berasal dari lokasi yang kondisinya berbeda-beda. hijauan rumput berasal dari kebun yang belum lama mengalami perlakuan pemupukan N, karena kesulitan memperoleh hijauan pada musim kemarau. sementara pada interval waktu tertentu, mulai dari pemupukan sampai pemotongan rumput, kandungan, nitrat maksimal (tinggi).

Kandungan nitrat dalam rumput gajah akan mencapai maksimum dalm 1-2 minggu setelah pemupukan urea, lalu menurun mulai minggu ketiga. oleh karena itu, waktu yang tepat untuk pemotongan hijauan agar aman dikonsumsi ternak adalah 5 minggu sete;lah pemupukan. pada 5-10 mionggu setelah pemupukan, produksi N tertinggi dan penimbunan nitrat terendah. untuk sampel rumput yang  berasal dari kebun yang ternaungi sehinmgga kurang mendapat cahaya matahari, aktivitas enzim nitrat reduktase terhambat sehingga mencegah akumulasi nitrat.

Untuk mendiaknosis keracunannitrat secara cepat dan tepat, pertama kali harus dilakukan pengamatan terhadap pakan hijauan yang dikonsumsi ternak, antara lain keadaan pertumbuhan tanaman, perlakuan pemupukan, umur tanaman, serta proposi bagian batang dan daun. selanjutnya dilakukan pengamatan gejala klinis, terutama perubahan warna darah, serta pengamatan ternak setelah mati (postmortem). untuk memperoleh hasil diagnosis yang tepat dilakukan pengujian di laboratorium, baik terhadap darah maupun pakan hijauan, untuk menganalisis nitrat dan mengukur MetHb dalam darah.

Pengobatan Dan Pencegahan

Pengobatan biasanya dilakukan dengan injeksi larutan 1% methylene blue dalam akuades(secara intravenus) pada dosis 4-15 mg/kg bobot badan dimasudkan untuk mengenmbalikan MetHb ke Hb sehingga darah dapat berfungsi kembali sebagai alat transportasi oksigen, sebagai indikatornya adalah perubahan warna darah.

Pencegahan keracunan nitrat pada ternak dapat dilakukan dengan cara, antara lain:

  1. Menganalisis kandungan nitrat terutama pada rumput yang mengalami kekeringan sebelum diberikan sebagai pakan.
  2. Mencampur rumput (pakan hijauan) yang mengandung nitrat tinggi dengan yang nitratnya rendah.
  3. Membiarkan ternak beradaptasi dengan mengkonsimsi pakan yang mengandung nitrat lebih tinggi, namun tidak melebihi 9.000 ppm bont kering, agar ternak mudah beradaptasi dengan kenaikan nitrat dalam hijauan pakan.
  4. Mengganti air minum setiap saat disamping harus bebas nitrat.
  5. Mengupas kulit batang pakan hijaun yang mengandung nitrat tinggi, karena kulit batang mengandung konsentrasi nitrat lebih tinggi dibandingkan dengan bagian lain.
  6. Tidak memberikan pakan hijauan yang mengandung nitrat tinggi atau mendekati level ambang batas saat ternak dalam keadaan lapar, yang merangsang ternak mengkonsumsi pakan lebih banyak (sebaiknya ternak mengkonsumsi rumput yang mengandung nitrat rendah sebelum mengkonsumsi rumput yang mengandung nitrat rendah sebelum mengkonsumsi rumput yang kandungan nitratnya lebih tinggi).
  7. Menjaga kesehatan ternak, karena ternak yang tidak sehat akan lebih mudah kercunan nitrat, terutama yang terserang penyakit pernafasan.
  8. Menghindarkan menyimpan pakan hijauan yang mengandung nitrat tinggi, karena penyimpanan akan mengubah nitrat menjadi nitrit yang lebih toksik.
  9. Menjauhkan ternak dari tempat penyimpanan pupuk.
  10. Menghindarkan memberikan rumput segar yang mengandung nitrat tinggi dengan dipotong-potong (chopping) diikuti perlakuan pemanasan, karena akan memudahkan pembentukan nitrit.

Keracunan nitrat pada ternak ruminansia disebakan karena ternak mengkonsumsi hijauan yang mengandung nitrat tinggi (melebihi ambang batas). kandungan nitrat yang tinggi dalam hijauan disebabkan terjadinya akumulasi nitrat sebagai efek pemupukan, terutama pupuk nitrogen yang dilakukan terus menerus, sehingga dapat mencemari tanah dan air sebagai media tumbuh hijauan yang dikonsumsi ternak. kercanunan nitrat pada ternak ruminansia perlu diwaspadai mengingat makanan utama ternak ruminansia adalah hijauan. sedangkan hijauan yang diberikan/dikonsumsi ternak baik hijauan pakan ternak khusus maupun hasil limbah pertanian mengandung nitrat tinggi (melebihi ambang batas).